Wednesday, June 27, 2007

Rumah Tuhan, Lamunan Arroyyan, Bojong-Surabaya-Malang PP.

Oleh: Bintoro WP.

Surabaya. Sendiri. Malam ini saya terprovokasi tulisan Cak Nun –saya terbiasa memanggilnya demikian sejak 1992 ketika kali pertama saya berjumpa dengan Emha Ainun Nadjib di tabloid Detik, yang dikirim Pak Yahya untuk menulis pengalaman bulan-bulan terakhir, ketika saban minggu pulang ke Bojong. Thx to Pak Yahya, blog Anda begitu inspiratif.

Dalam hati, siapapun yang diberi kesempatan pergi berhaji, hendaknya mampu menjadikan hamparan puing di bekas Arroyyan tak lagi mengganggu mata dan hati saya.

Apa kaitan gerangan Arroyyan dan perjalanan berhaji. Simak ungkapan seorang sufi, ”pada perjalanan haji yang pertama, saya hanya melihat rumah Tuhan. Pada saat yang kedua, saya melihat rumah Tuhan dan pemiliknya. Dan pada saat yang ketiga, saya hanya melihat Tuhan saja” Begitu ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy.

Hadits qudsy yang cukup terkenal berbunyi; Sesungguhnya rumah-Ku di muka bumi adalah Masjid-masjid. Menekankan kepada kita akan pentingya keberadaan dan fungsi masjid-masjid, sebagai rumah Tuhan di alam dunia.

Saya bertanya dalam hati, seperti apa sebenarnya konsep kita tentang rumah Tuhan ini. Entah mengapa, sepulang ngopi dirumah tetangga, saya teringat judul cerpen yang begitu berani. Robohnya Surau Kami, karangan almarhum Ali Akbar Navis yang saya baca ketika awal SMP, dan kini terbit lagi dalam bentuk antologi, oleh Gramedia Pustaka.

Saya terhenyak, Navis bukan hanya piawai dalam penyampaian yang mengharukan. Kisah ini menampar saya tentang perlunya menjaga kelestarian rumah Tuhan melalui acara sosial keagamaan yang bermanfaat serta mampu memancarkan optimisme hidup bagi orang banyak.

Melalui tokohnya, seorang pembual bernama Arjo Sidi—Navis mengajak saya memelihara bangunan rumah Tuhan dari segala potensi bahaya yang mampu merobohkannya. Termasuk di dalamnya kekeroposan pilar keagamaan --iman dan akidah serta kejumudan beragama para pengelola dan jamaaahnya.

Tidak. Arroyyan tidak sama dengan surau yang digambarkan Navis. Warga di komplek ini tidak sama dan sebangun seperti yang ia gambarkan di desanya, tanah Minang sana. Di Bojong, setahu saya, tidak ada pembual seperti Arjo Sidi.

Tapi, dalam cerpen itu Navis sepertinya ingin menandaskan, di saat masjid, musholla, surau, langgar telah dimonopoli oleh tangan segelintir pengelolanya, maka saat itulah hak milik bangunan sebagai rumah bersama, dirampas dari kepemilikan sosial masyarakat secara kolektif. Tidak. Arroyyan tidak akan mungkin demikian.

Istri saya menegur. “Kamu saja jarang menyambangi Arroyyan, sok khawatir. Demikian curiganya kamu. Begitu negatifnya otakmu.”

Tidak. Arroyyan tak mungkin demikian. Tapi, entah kenapa selesai membaca, saya teringat seorang Wiji, marbot Arroyyan yang orang Tingkir itu. Bukan, Wiji bukan marbot seperti kakek yang digambarkan Navis. Saya banyak tahu Wiji ketika menemaninya mengerjakan bale RT.

Malam, minggu berikutnya saya membuka lembar jurnal Ulumul Qur’an, edisi III, 1995. Di halamannya terdapat tulisan Ikun Eska, Sebuah Rumah Buat Tuhan. Saya berharap, saya mendapat jawab, tentang arti sejati dari rumah Tuhan.

Ikun bercerita dengan memikat, bagaimana sebuah masjid di desa Jarot --tokoh cerpen yang berkeinginan mengembalikan fungsi masjid, dalam kenyataan keseharian hanya berguna sebagai tempat ritual yang bersifat seremonial belaka. Pak Kamituwa --wakil dari otoritas penguasa, telah mengunci mati masjid indah itu, dan menjauhkannya dari kebutuhan publik yang tak lain adalah tiang utama dari pembangunan rumah Tuhan tersebut.

Sehingga, kala suatu ketika desa itu dilanda hujan badai, masjid itu tetap tak mampu menjadi penampung yang baik. Masjid Jarot tak dapat menolong warga dari deraan musibah. Banyak korban bergelimpangan di di luar masjid. Dan, di tangan Pak Kamituwa –yang juga simbol dari ortodoksi pemikiran, sebuah masjid yang begitu megah telah menjadi hadiah bagi Tuhan. Hehe, Dzat yang sama sekali tak membutuhkannya. Apalagi hal itu sampai mengorbankan warga --jamaah masjid, sebagai tumbal dari ritual yang tidak pada tempatnya.

Alamak. Bojong tidak ada angin ribut. Atau semoga angin ribut tidak datang ketika Arroyyan belum berdiri megah seperti gambarnya itu. Entah siapa pula yang berimajinasi demikian tinggi, gambarnyapun begitu sulit diakses publik. Eh, boro-boro gambarnya, transparansi pembangunannya pun kini banyak digugat. Konon, intrik juga sempat melanda. Benarkah praktek politik kotor sudah meracuni warga? Cermin dari rusaknya struktur sosial? Tidak, saya menghibur diri.

Di komplek perumahan Gaperi yang jalannya hancur dan warganya tak bernyali menagih developer itu, kami siap bahu membahu menolong sesama. Tidak, tak ada pula tokoh macam Pak Kamituwa seperti Ikun lukiskan. Yang ada Pak Eman yang sekampung dengan Cak Nun dan doyan gaple itu.

Esok paginya, saya mendapati bapak. Ayah saya yang stroke dan kini memilih meninggali rumah samping Pak Saerang. Di bale bambu Bapak menggenggam buku. Tak berani saya mengganggu. Ketika berhaji 1997, tendanya ikut terbakar.

Pak, seperti apa konsep rumah Tuhan itu?

Dia tersenyum, seperti mampu membaca pikiran saya. Ia mengutip Buya Hamka, “rumah Tuhan mesti bisa berfungsi sebagai tempat introspeksi dimana semua orang nyaman bertafakkur dan memohon kepada Tuhan untuk menganugerahkan kesabaran dan keteguhan dalam mengarungi kehidupan.”

Sederhana. Bapak juga mengutip kutipan yang lebih lugas dari Najib Mahmud dalam buku Ru’yah Islamiyah, “masjid yang sejati terbangun dalam nurani,” katanya dengan lafal lidah tpikal penderita stroke, pelo dan cadel. Hiyaa!

Saya bertambah kalut. Bagaimana mungkin Arroyyan, masjid yang jarang saya sambangi itu mampu mengusik saya. Bangunan Arroyyan dengan bilik bambu medio 1997 sekelebat terlintas memenuhi isi kepala yang makin hari makin tipis berambut. Saya tahu, kenapa Arroyyan bambu lebih lama tinggal di memori. Pak Zainal, Pak Budi Wibowo dan Pak Hendro pernah menyenggol, “dulu semua orang butuh, semangat kebersamaannya ketika itu luar biasa pak.” Aha, kiranya semangat kebersamaan itulah yang mampu memberi ruh Arroyyan bambu? Hiyaa! Masjid yang sejati terbangun dalam nurani.

Kembali ke rumah. Entah mengapa saya teringat Gus Mus di Rembang. Dua minggu sebelum Soeharto jatuh, saya sempat berdiskusi mengenai maraknya masjid dibangun di sepanjang daerah miskin pantura Jawa. Saya hanya ingin tahu, bagaimana mungkin orang giat membangun masjid megah sementara sekelilingnya warga kesulitan mencari makan.

Ia menerangkan tentang pasokan dana dan sebagainya. Tapi yang menampar saya ketika itu, KH. Mustofa Bisri –nama lengkap Gus Mus, juga mengungkapkan keresahannya. Bahwa menjamurnya masjid dengan bentuk fisik yang serba megah di mana-mana, pada derajat tertentu, malah kian mengasingkan para jamaah untuk masuk ke dalamnya. "Masjid menjadi semakin tertutup, begitu pula para pengelolanya, eksklusif menikmati singgasananya".

Di balik kemegahannya, bayangan biaya pembangunan dan anggaran perawatan membuat khalayak sering dihinggapi semacam rasa sungkan, malu dan rendah diri untuk berlama-lama di dalamnya. “Makanya, wajar bila Nabi dalam sebuah haditsnya pernah menggambarkan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah gejala saling bermegah-megahan dalam membangun masjid,” kata Gus Mus suatu malam.

Satu sisi Gus Mus benar. Tapi Arroyyan bukan hanya membangun masjid. TPA dibawah bendera lembaga pendidikan dan koperasi dibawah bendera lembaga usaha katanya juga akan diakomodasi dalam bangunan itu. Jadi wajar saja membangun dengan menyedot ratusan juta. Tapi, secara imajiner, senyum Gus Mus malam ini seperti meledek.

Seorang kawan se komplek perumahan menyenggol lewat Yahoo! Messenger beberapa hari yang lalu. Kita tuh banci Pak. Kok gak fokus? Mau bangun apa sebenarnya kita ini? Seharusnya kita malu dengan Assalam di kampung depan itu. Struktur organisasi mereka simply, santai aja tuh mereka beragamanya.

Tetangga lain nimbrung. Pak, kenapa ya kita tidak serahkan sesuatu hal kepada ahlinya, kok kita malu mengakui kompetensi orang? Bukankah pendelegasian yang baik adalah kunci sukses seorang pemimpin? Saya buru-buru sign out, ingin segera pulang membungkam mulut mereka. Jikapun tidak, ingin rasanya menghajar pantat mereka untuk lebih berani mengutarakannya kepada yang berwenang.  Ampun.

Cak Nun, jika saja mampu berhaji, saya bukan haji racun seperti yang sampean maklumkan. Ah, kenapa saya takabur begini rupa. Insya Allah tidak Cak. Minimal, saya punya modal, selalu membelikan kerabat maupun kenalan buku Menjadi Manusia Haji karangan Dr. Ali Syari’ati setiap kali mereka hendak berhaji. Saya ingat betul tentang telaah sosial dan filosofis yang ia
gambarkan dalam ritual kolosal umat Islam tiap tahunnya. Rumah Tuhan adalah rumah umat manusia.

Farah Amini, karib sejawat di kantor, orang terakhir yang saya beri. Dia berumroh dua minggu lalu. Semalam dia menelpon dari kantor barunya di Menara Kadin, Kuningan. Berdiskusi dan melaporkan perjalanannya. "Minimal kini saya tahu Mas, kenapa Ka'bah tidak dibongkar!" Sebelumnya Pak Zainal, kawan saya ngopi di rumah dengan harapan agar ia segera berangkat.

Saya teringat ketika ayah berhaji, beberapa bulan sebelum saya menikah, saya menangis sejadinya karena buku itu. Berhaji berarti bersiap mati, sehingga setelah berhaji orang seperti dilahirkan kembali.

Ali Syari’ati dan sanak kerabat –NU atau Muhammadiyah atau apapun mazhabnya yang pernah berhaji bersepakat memberi kesaksian, drama monumental Haji adalah momentum yang pas dan kontekstual untuk menggugat kembali kesadaran manusia dalam pergaulannya dengan rumah Tuhan.

Pada hakekatnya, haji merupakan perjalanan ritual yang sepenuhnya tak bisa lepas dari nuansa kemanusiaan. Selain perjumpaan dengan pengalaman spiritual yang mengesankan, di dalamnya juga dipenuhi beragam ujian berupa rajukan setan yang selalu berusaha menggelincirkan setiap pelakunya. Haji adalah serangkaian perisitiwa dengan aneka makna. Ia bisa berupa sekadar kejadian biasa dalam dimensi yang sarat dengan hasrat dan denyut nadi kemanusiaan, juga bisa berwujud sederetan tragedi yang konyol, memukau, haru biru, kelabu dan bahkan lucu.

Pada titik ini, Alm. Navis dan Ikun, juga pengalaman kita semua di kampung halaman dan masa kecil, dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi dinamika dan penyadaran hidup keagamaan.

Sekali lagi Cak, jika saja saya berhaji, saya ingin menjadi bagian dari gempita kepasrahan kolosal yang membahana itu. Saya tahu, sebagai pelaku, saya terlibat untuk menyaksikan secara langsung napak tilas sejarah beserta situs peradaban yang bernilai religi itu.

Sebab, kata Ali Syari’ati, keberadaan Ka’bah atau Baitullah tak dapat disangkal merupakan simbol yang memiliki daya pikat paling kuat dibandingkan simbol-simbol yang lain. Selain sebagai kiblat shalat, Ka’bah merupakan lambang dari kekuatan tauhid – monoteisme, yang obornya dinyalakan oleh Ibrahim. Ia tidak hanya cukup didekati dengan cara berkeliling di sekitarnya. Lebih dari itu ia membutuhkan simpul tali keagamaan yang kuat dalam upayanya untuk mengakrabkan hubungan hamba dengan penciptanya. Bukan begitu Cak? Taraf kedekatan semacam inilah yang diidealkan pencapaiannya oleh para pelaku haji, sebagaimana telah dirasakan melalui ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy diatas.

Seketika saya ingin mengadu kegundahan kepada Suami Novia Kolopoking ini –kawan SMA adik saya. Tapi dia kini tengah sibuk mengadvokasi saudara-saudara korban Lapindo. Sekalipun sama-sama di Surabaya, saya begitu sulit menemuinya.

Saya tumpahkan kegundahan saya kepada Pak Arief Lukman Hakiem. Kawan sekantor yang berasal dari Madura. Jago masalah tanah dan pertanian, dan sempat beberapa tahun berguru di Jerman. Dua jam lebih kegundahan ini dan silang sengkarut pikiran tentang Arroyyan, Bojong, Navis dan Ikun saya pindahkan ke kepalanya.

“Mas tahu, apa yang dilakukan ketika Nabi pertama kali menginjakkan kaki di Yatsrib, sekarang Madinah?” tanyanya. Dengan gaya maduranya, dia menjawab sendiri. Pertama, sebelum Nabi Muhammad menginjakkan kakinya di Madinah, maka Beliau membangun masjid, yakni masjid Quba. Kedua, tindakan mendasar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad --lelaki yang sangat bersahaja itu-- adalah menemui dan melayani fakir miskin.

Lalu Pak Arif?

“Dari dua pengalaman Rasulullah itu Mas, selama hidup  seharusnya kita menyinggahi dengan memberdayakan masjid yang fungsi utamanya bukan sekadar tempat shalat. Tak perlu megah dan bermewah-mewah, menjadikannya rumah buat semua umat. Dan, menyantuni fakir miskin, anak yatim dan kaum tertindas. Keduanya adalah tempat seorang muslim diuji kebenaran komitmennya dalam mengemban amanat Sang Khalik.”

Bapak asal Sampang --belum berhaji, beranak dua yang baru saja pindah dari Surabaya ke Malang ini juga bercerita penuh semangat dengan kutipan isi buku Dr. Ali Syari'ati dalam memotret suasana kehadiran Rasulullah saat menginjak tanah Yatsrib.

“Mas Bin, kenapa Tuhan mengijinkan Ibrahim menguburkan istrinya, Siti Hajar yang mantan budak, berkulit hitam asal Ethiopia itu tepat di sisi Ka’bah?”

Masih dengan gaya maduranya ia menjawab sendiri. Tuhan sangat setuju dengan pembelaan terhadap orang-orang tertindas. Tuhan telah menorehkan simbol tauhid dan pembebasan. Tanggapan terhadap tangisan kaum tertindas adalah jawaban terhadap panggilan Allah. Mengabaikan tangisan kaum tertindas sama dengan mengabaikan panggilan Allah.

Lalu Pak Arief, pada perjalanan ke berapa saya mampu menangkap ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy?

"Tidak mungkin Mas Bin. Pertama, kita semua belum bebas, minimal merdeka berpikir. Kedua, Anda hanya melakukan perjalanan Bojong-Surabaya-Malang pulang pergi saban minggunya."

Dasar Pak Arief!

Ala kulli haq, sampai ketemu, dimanapun.

dengan segala permaafan,
Surabaya - Malang
June, 27, 2007

Friday, June 08, 2007

Piet Paaltjes

Oh, Spreek mij niet van liefde,
van vriendschap en van trouw
die zijn al sinds lang overleden
'k ben er al van in de rouw.

Neen, spreek mij van 's menschen ellende
van al zijn kommer en nood
en hoe hij zijn broeders leven
verbitterd, dan lach ik mij dood

Thursday, June 07, 2007

Eenzaamheid

Eenzaamheid
(Jan van Nijlen)

De mens is eenzaam tot en met zijn dood
Nooit is ,,n liefde, nooit ,,n vriendschap klaar
en, zelfs geboren uit dezelfde schoot,
Zijn wij nog vreemden voor elkaar.

Wat weet ik van mijn zuster en mijn vader.
wat van mijn moeder en mijn eigen kind?
En is mijn vrouw mij altijd zoveel nader
Dan de arme meid voor 't eerst bemind?

Nooit kan een hart een ander overwinnen;
Van lief tot minnaar en van mens tot mens
Kunnen wij nooit geheel volmaakt beminnen;
Er is altijd een kloof, een grens.

't Is niet eens zeker dat de dood verenen
Kan wat het leven onmeedogend scheidt,
En er beestat niet, van Parijs tot Wenen,
Een koffiehuis 'In de Eenzaamheid'!

Tuesday, February 27, 2007

Haji Madu dan Haji Racun

Haji Madu dan Haji Racun
Oleh Emha Ainun Nadjib

Hari-hari ini adalah hari 'H' di mana rombongan-rombongan awal jamaah
calon haji kita mulai bersiap berangkat.

Ini adalah sebuah keindahan. Kita mengayubagya mereka semua. Kita
semua Umat Islam bagaikan sedang berada di menit-menit yang penuh rasa
penasaran.

Sesaat lagi lagu-lagu rindu keilahian akan terdengar. Lantunan suara
talbiyah cinta akan bangkit dari seluruh permukaan bumi, bagai beribu
gugusan cahaya yang bangkit tegak lurus ke langit.

Gunung-gunung, hutan belantara dan kebun-kebun, angin, dedaunan, akan
menari-nari. Dan langit menyiapkan spiritual receiver-nya yang
terjernih. Ribuan malaikat Allah akan mengangkut di pundak-pundak
mereka lagu-lagu jawaban para hamba Allah atas panggilan cinta, untuk
dihamparkan dan ditata di halaman rumah sejati Allah nun jauh di arasy
laisa kamitslihi syai-un. Ah, betapa bahagianya mereka yang kini mulai
berbondong-bondong ke Baitullah. Mereka bukan saja akan menciumi hajar
Aswad, mengitari Ka'bah dalam emosi cinta yang meluap-luap. Mereka
bukan saja akan berjajar memenuhi Masjidil Haram -- tapi juga siap
berjamaah salat dengan semua Nabi dan Rasul, segenap Aulia, Jin-jin
mukmin-muslim, bahkan dengan debu-debu dan kehangatan matahari yang
semuanya itu bertasbih.

Ya Allah... dan Rasulullah Muhammad SAW yang amat amat amat kita
cintai, berdiri sebagai Imam salat kita semua! Kita yang tertinggal di
tanah air siap menangis. Siap meneteskan airmata, dengan rasa cemburu.

***

Menurut sebuah berita keislaman lama, terdapat sebuah interpretasi
yang mengidentifikasikan ibadah haji dengan lambang air madu.
Besertaan dengan ini salat dilambangkan oleh air hujan yang pangkal
dan ujung maknanya adalah pencahayaan. Puasa disimbolkan oleh khamar
yang mengempasiskan proses peragian rohani atau sublimasi kepribadian.
Sementara zakat dimetaforkan oleh air susu yang inti kearifannya
adalah keberbagian atau kesediaan berbagi.

Haji madu! Haji madu! Saudara-saudara kita yang pergi memenuhi
panggilan cinta itu berangkat memproses pencapaian kualitas madu bagi
kepribadiannya. Nanti kalau mereka kembali ke tengah kita, maka
siap-siaplah mendengarkan betapa setiap ucapannya akan bermutu bagai
madu. Setiap perilakunya, setiap gerak geriknya, setiap keputusan dan
sikap sosialnya -- baik dalam pergaulan kesehariannya maupun dalam
keterlibatan kolektifnya pada sistem-sistem sosial -- akan memancarkan
kualitas madu.

Seandainya seorang Muslim sekadar sampai pada taraf syahadat saja pun
-- berkat ikrarnya atas Allah dan Rasulullah -- pun mestinya ia akan
tak mungkin menyakiti kita. Tak mungkin mendustai kita, menggusur
nasib kita, mengakali kebodohan kita, menindas kelemahan kita.

Apalagi jika hamba Allah itu telah pula melakukan salat. Orang yang
sudah mengangkat tangan dan mengucapkan 'Allahu Akbar' di awal salat,
mana mungkin punya sifat egosentris, mana mungkin memusatkan kehidupan
ini pada kepentingan sendiri, pada kemapanan kekuasaannya sendiri,
atau pada pamrih keuntungan ekonominya sendiri.

Orang yang ketika melakukan salat dan bersujud atau berpose menyerupai
binatang berkaki empat dan mengucapkan ''Maha Suci Allah yang Maha
Tinggi'' dalam kedudukan sebagai 'aku' atau individual (: robbiya);
atau ketika beruku' bagaikan kanguru menunduk dan juga dalam posisi
sebagai 'aku' atau individual; lantas ketika berdiri bersedekap
mengucapkan ''hanya kepadamu kami menyembah...'' atau memposisikan
dirinya tidak sebagai individu melainkan sebagai 'kebersamaan sosial'
-- mana mungkin terlibat dalam ketidakadilan, otoritarianisme,
fasisme, korupsi, manipulasi atau monopoli.

Kalau sudah melakukan salat tapi tetap mengerjakan hal-hal itu, maka
tentu mereka adalah alladzina hum 'an sholatihim sahun -- orang-orang
yang memperlakukan salatnya dengan kelalaian dan pelecehan -- sehingga
neraka Wail yang dijanjikan oleh Allah atas mereka. Sebab yang mereka
produksi di muka bumi adalah neraka-neraka kecil, perusakan dan
penghancuran atas wajib bareng-barengnya kesejahteraan bagaimana yang
diamanatkan oleh Allah SWT.

***

Jadi betapa indahnya perilaku, ucapan, peran, sosial dan mutu
integritas orang yang telah naik haji.

Tapi kalau ternyata tidak demikian -- menangislah. Kalau ternyata di
sekitarmu bahkan ada haji-haji racun, berlindunglah kepada Allah SWT.

Bermacam-macam dorongan yang membuat orang-orang pergi haji. Ada yang
karena kerinduan bertahun-tahun. Ada yang memang benar-benar karena
ingin mematangkan dan menyempurnakan kemuslimannya. Ada juga yang
kebetulan dapat jatah. Ada yang biaya naik haji baginya sama dengan
makan malam beberapa kali, sehingga pergi ke Mekkah itu tidak
istimewa, dan ketika merancangnya seakan-akan ia akan berpariwisata.

Atau mungkin ada yang buntu hidupnya, dipenjarakan ia oleh
problem-problem, sehingga ia yakini hanya di Baitullah segala
sesuatunya bisa dibereskan.

Seorang kawan hendak naik haji dengan perasaan bahwa bukan tidak
mungkin ia tak akan pernah kembali ke tanah air. Ia mintai saya
menemaninya pada minggu-minggu menjelang berangkat. Ia bereskan semua
hutangnya, ia beredar minta maaf kepada siapa saja yang ia pernah
melakukan kesalahan. Ia jaga perilakunya sebaik mungkin dan ia
hindarkan dari dosa sekecil apapun.

Tapi ada juga seorang kawan lain yang mengeluh kepada saya betapa
calon istrinya mengisi hidupnya pada bulan-bulan menjelang naik haji
dengan cara yang sangat aneh.

''Hampir setiap hari ia menyakiti saya,'' katanya, ''ia selalu
menuntut kejujuran saya tapi ia sendiri mempersembahkan kepada saya
dusta, kebohongan, pengingkaran janji, siksaan, kekejaman. Jangankan
memperlakukan saya sebagai calon suami yang ia janjikan dengan
berbagai komitmen; sedangkan memperlakukan saya sebagai manusia --
nguwongke -- saja ia hampir tak lakukan. Saya bukan membesar-besarkan:
ia benar-benar secara sangat ekstrem melakukan hal itu dari jam ke
jam. Ia seperti sedang dikuasai entah oleh setan atau jin apa. Bahkan
terakhir saya menjumpai -- maaf -- gambar buka aurat dia, dan entah
siapa yang memfotonya. Saya boleh menangis, 'kan, meskipun saya
laki-laki? Juga saya sama sekali tidak mengerti bagaimana mungkin ia
menghimpun kelaliman itu menjelang pertemuan agungnya dengan Allah?
Apakah saya akan tidak mensupport keberangkatannya naik haji?''

Saya merasa tidak mampu meneruskan tulisan ini, sebagaimana saya juga
merasa tidak sanggup memberikan jawaban atau saran apapun kepada teman
kita ini.

Tapi saya mencobanya. ''Mungkin Allah menawarimu kemuliaan tingkat
tinggi. Di puncak sakit hatimu dan hancurnya harga dirimu, engkau
ditantang untuk sanggup memanfaatkannya, karena hanya jika engkau
memaafkannya maka Allah akan juga mengampuninya. Memaafkan adalah
satu-satunya jalan: bukankah engkau sangat mencintainya?''

''Ya,'' jawab kawan ini, dengan nada ragu.

''Islam mengenalkan kepada kita konsep husnul khathimah, akhir yang
baik. Mudah-mudahan ia memang sedang terserap oleh puncak kegelapan
hidupnya, semoga pula Allah nanti membenturnya, kemudian
menganugerahinya hidayah dan cahaya.''

''Tapi bagaimana kalau Allah ternyata membiarkannya?'' ia tampak
sangat cemas, ''di tanah suci ia tak mengalami apa-apa, nanti pulang
juga tidak berubah apa-apa?''

''Satu-satunya jalan yang bisa engkau tempuh adalah tidak
ber-su-udhdhon atau bersangka buruk kepada Allah. Bukankah yang
terindah dalam hidup ini adalah kebesaran jiwa untuk disakiti oleh
kegelapan, kemudian memohonkan kepada Allah perkenan untuk mengubahnya
menjadi cahaya?''....

Ah, teori! Tampaknya aku sendiri seandainya itu semua benar tak mampu
menyangga pengalaman semacam itu. Haji racun. Tapi tak mungkin haji
itu meracuni. Tidak. Bukankah Mike Tyson memperkosa, untuk beberapa
tahun kemudian bersujud syukur di hadapan ratusan juta penonton?

Thursday, January 04, 2007

Malam itu

Malam itu kita berjalan, berdua saja.
Menyusuri trotoar dingin, di malam penuh sajak cinta.
Berdua saja.

Bumi dan bulan saling bercerita dan meraba dinding hatinya
tanpa peduli apapun yang kelak akan terjadi..

Kalau saja aku tidak mencintainya,
kenapa jua aku mau menemaninya malam itu...

Angin lirih dan bulan kelak akan mengerang menahan rindunya.

Dec 19, 2006

Thursday, August 31, 2006

Selamat Jalan Mata Indah

Sampai pagi ini...
mukjizat itu tidak pernah ada...
dan kita hanya sanggup berharap saja...
Kita manusia memang tidak berdaya...
...yang tersisa hanyalah doa.

Selamat jalan Sahabat...
Di hari jum'at yang baik ini, semoga engkau mendapatkan tempat
yang layak di sisi-Nya, diterima amal ibadah dan diampuni segala
dosa.

Yang berduka.

Wednesday, August 02, 2006

Sharing Handphone :p

Gaim_1

Wednesday, March 15, 2006

Garing 2

+ Mengapa ikan tidak hidup di darat?
- Karena takut sama kucing

+ Apakah benar kita bakal sial kalo jumpa ama kucing hitam?
- Itu tergantung, kamu itu manusia atau tikus.

+ Mengapa guru sejarah botaknya pada kepala bagian belakang, sedangkan profesor dibagian depan?
- Karena guru sejarah berpikir pada masa lampau, sedang profesor berpikir untuk masa depan.

+ Kenapa robin jadi pembasmi kejahatan?
- Soalnya dia ketemu sama batman.... kalo ketemunya sama baskin dia bakalan buka toko eskrim

+ Kenapa nyamuk kalau terbang pasti bunyinya nging nging dikuping?
- Sebab nyamuk menghisap darah coba kalau menghisap solar pasti bunyinya bremmmmmmm...... bremmmmmm... bremmmmmm... bremmmmmmmm

+ Kenapa ibu dari pengantin wanita menangis pada saat upacara pernikahan?
- Gak rela anaknya diboongin

+ Apa bahasa indianya bumbu dapur?
- Tumbar miri jahe

+ Gimana caranya supaya kereta api dan motor kalau ditimbang beratnya sama?
- kereta api dan motornya di foto

+ Orang apa kalau dipukul gak sakit-sakit?
- Orang gak kena yeeeeeeeeee

+ Apa bedanya tukang pajak ama palak?
- Kalau tukang pajak nagihnya pake surat, kalau tukang palak pake urat!

+ Apa bahasa chinanya anak kecil terpeleset?
- Lichin thong...

+ Rambo lahirnya dimana?
- Di turunan, waktu nganterin ibunya, mobil bapaknya remnya blong, si ibu bilang rem bo'!

+ Ikan apa yg bertahan lama hidup di darat?
- Ikan panjang umur

+ Apa persamaannya batu dengan buta?
- Sama-sama tidak baik untuk mata.

+ Kuman apa yang dipatuhi teman-temannya?
- Kumandan upacara

+ Apakah Limau itu ?
- Duau ditambah Tigau

+ Mengapa bumi selalu berputar mengelilingi matahari?
- Karena ingin mencari diskon Matahari yang paling besar

+ Mengapa batman pakai topeng?
- Karena malu celana dalamnya keliatan.

+ Kenapa Batman & Robin keluarnya malem?
- Kalo keluar pagi kena Three in One

Friday, March 10, 2006

Time To Grow (J'ai Plus de Mots)

Interprete : Lemar & Justine

Last night i tried but i couldn't sleep
Trought of you were in my head
I was loney and i needed you next to me
Life is harder since you left
I never meant to do you wrong
And now all is said and done
I hope you won't be gone too long, no

Where do i do
What do i go
I can't deny i still feel something
And girl,I wish you could say you
feel the same(yeah)
You've gone, i'm here(i'm here) alone
I guess it's time to grow

Oohooooooo hmmmmm

Ce qui arrive, notre histoire
restera inachevée
Like you never knew i was there
Tu te bas, on se ment, je préfére m'en aller
Can we make love re-appear?
Tes larmes ne vont plus rien changer
And now all is said and done
Il faudra nous reconstruire et réapprendre à aimer (no)

Where do i go
J'ai plus de mots
What do i do
J'ai plus le goût
I can't deny i still feel something
De rester jusqu'à bout
And girl, i wish
Et je sais que tu le sais
You feel the same

You've broken the bond
Même si je t'aime
i gotta move on
Même si je saigne
But how do i end this lonely feeling? (hoho)

You've gone
Je pars
I'm here,
Ailleurs
Alone
I guess it's time to grow

Crying time is over
Gardons de nous le meilleur
Feelings if she won't return, then i guess i'll be a man
And move on

Ohooooooo

Time to grow
And move on
Make life better than it was before (Ne me retiens pas je pars)
Time to grow
And move on
Make life better than it was before (Je t'aime bien plus que tu crois)

Thought you've gone
Je pars
Alone
I guess it's time to grow

Friday, February 24, 2006

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Sapardi Joko Damono, Hujan Bulan Juni